Awal-awal masa
asmara semestinya adalah awal-awal di mana kita mencari tahu keadaan
masing-masing. Janganlah menuntut terlalu banyak, itulah yang di tanamkan
kepadaku oleh orang-orang yang jujur. Akhir pekan bulan ini aku memang
mengajaknya pergi ke sebuah bioskop keesokkan harinya. Hari itu aku pulang
terlampau malam, dan hampir pergantian hari baru. Keesokannya aku jatuh sakit,
kepalaku pusing dan badanku terasa seperti engsel tua yang lama tak digerakkan.
Aku tertidur sedari siang, tak mendengar keriangan kicauan burung diawal musim
panas ini. Selepas maghrib, aku terbangun dan menjalankan kewajiban. Setelah
itu aku kembali harus menuruti kemauan alam. Sejurus kemudian sms darimu
meluncur ke ponselku. Kau menanyakan perihal ajakkanku kemarin. Dalam benakku
hanya terfikir kata maaf yang ingin kuucapkan langsung kepadamu dalam kelemahan
ini. Aku meneleponmu dan langsung kuucapkan kata maaf itu dan seuntai kata yang
menyatakan kelemahanku. Aku tutup telepon dan tertidur hingga dini hari. Maaf.
Hari ini berlalu. Minggu baru, datang. Tak selayang sms atau rasa khawatirmu
datang menghampiriku. Aku terdiam. Berfikir apakah seperti ini dirimu
menyikapiku.. ahh. Mungkin ini perangai aslimu. Minggu ini hampir selesai. Aku
tergerak untuk menanyakan kabarmu. Mungkin kau juga sakit dan harus mengalah
pada alam. Aku meneleponmu dan terdengar nada suara seraya lantunan harmoni
kekhawatiran dan sejumput perasan bersalah.
Jiwa-jiwa yang tenang, jangan sekali-kali kamu mengikuti pemikiran dan emosi diri sendiri. Bahwasanya memang kamu tak punya daya dan upaya untuk menentukan kebenaran yang sejati. Terlebih perkara yang belum diketahui. Berfikirlah!
Kamis, 26 April 2012
Selasa, 03 April 2012
Februari
Minggu-I
Ketika mobil yang kami tumpangi meluncur dari mangga dua sehabis mengantarkan kami berjalan-jalan mengisi kekosongan waktu sekolah, seluncur sms menghampiri ponselku. Sebuah sms yang tidak jelas tetapi mengurai maksud untuk sekedar menyapa karena perasaan bersalah tempoh hari yang mengabaikan kehidupanku dan bahkan kehidupannya sendiri dan kehidupan nuraninya. Sedikit ku berfikir di tengah obrolan dan gurauan teman-teman sekolahku di mobil ini. Sesampainya di daerah Gunung Sahari kutelepon dia dan langsung kuajak untuk bertemu. Sebuah sinyal seorang wanita yang ku tangkap dari perilakunya barusan. Pembicaraan setelah lebih dari dua minggu pun terjadi. Tanpa basa-basi setelah kata halo ku dengar dari seberang telepon, langsung kutanyakan “kapan?, kapan kau ingin bertemu denganku??” tawa kecil menyeruak dari bibirnya dan dengan sedikit malu dia menjawab dan menyerahkan waktunya kepadaku. Aku mengatakan nanti sore selepas pulang sekolah, untuk menemuinya, dengan nada sedikit kaget ia pun mengiayakan ajakanku. Terus terang sedikitpun tak ada rasa senang ataupun perasaan yang gembira menunggu kabar ataupun pertemuan. Hanya saja ingin kulihat wajah perempuan yang merasa tak berdosa tanpa kuketahui sebabnya sikapnya akhir-akhir ini. Mobil terus melaju di jalanan ibukota yang sedikit lengang, menuju cempaka putih. Adzan dluhur baru saja berkumandang tetapi tak terasa adzan ashar pun segera menyapa rindu pada senja. Pukul lima sore kelas bubar dan aku berpamitan pada teman-teman untuk pulang lebih awal, menjenguk nenekku dan sejenak beristirahat di sana menunggu waktu yang telah dijanjikan perempuan itu. Selepas adzan maghrib, aku berpamitan kepada nenekku untuk pulang, dan segera menuju tempat pertemuan kami, pertemuan dengan melodi, teman sekolah menengahku. Tak seberapa lama kutunggu dan melodi muncul dari balik pintu kaca sebuah toko yang ada di depan tempat ku berdiam. Dengan raut muka yang bertanya-tanya dia memandangiku, kubalas dengan sebuah senyuman yang biasa. Kusalami dan kutanyakan kabarnya. Langsung ku ajak dia membonceng sepeda motorku dan mencari tempat yang nyaman untuk berbincang. Sepertinya sudah Sembilan tahun kami tidak pernah bertemu dan berbicara, tetapi kurasakan tak ada yang berubah darinya masih sama seperti masa di sekolah menengah dulu. Tatapan wajahnya masih kaku dan penuh rasa penasaran. Aku cairkan dengan gurauan-gurauan yang sedikit membuatnya tertawa. Di sebuah rumah makan pinggir jalan yang sepi dan rindang kami berhenti dan berbincang-bincang di sana. Malam ini sedikit teduh dan mendung tak dapat menyembunyikan butir-butir hujan yang sedikit mulai sedikit turun. Kami berbincang tentang masa-masa yang telah dilewati selama sembilan tahun kebelakang, pengalaman, dan hari-hari yang kami anggap bermakna.
Waktu hampir malam, kuajak melodi untuk pulang dengan masih menyisakan wajah yang penuh perasaan tak percaya ataupun kaget. Aku tak perduli reaksimu, memang begitulah wanita, aku bisa membaca raut wajahmu, itu yang akan kukatakan seandainya ia menanyakan kenapa aku hanya bisa tersenyum kecil saat ia mencoba memandangku, sekali lagi, saat dia mencoba memandangku. Aku tahu matamu tak sanggup memandangku lebih dari satu menit. Udara semakin dingin dan jalanan sedikit basah menyisakan lagu hujan yang beberapa saat lalu sudah selesai. Deru mesin sepeda motorku tak mampu menahan kegundahan dan perilakumu yang sangat alamiah. Terlebih saat ku katakan “kau tak berbakat sedikitpun menjadi penyanyi”. Reaksi yang sangat bertolak belakang, seharusnya kau marah, kau bisa memintaku untuk menurunkanmu di tempat itu dan pulang ke rumah sendirian. Tetapi naluriah wanita yang sedang jatuh cinta berkata lain, kau hanya sanggup mengumpat dengan perasaan terombang-ambing rasa penuh gelora gemas yang bergejolak di tengah cubitan-cubitan mesra yang kau lemparkan ke pinggangku. Tak kau sadari kau melemparkan semua perasaanmu secara tersirat kepadaku. Aku mencoba diam dan berperilaku tak mengetahui apapun. Karena jika kuberkata dan membuatmu mengerti bahwa aku tahu perasaanmu malam ini, aku yakin kau takkan punya muka untuk sekedar mengirimkan sms kepadaku. Jalanan kian panjang seiring kecepatan yang ku kurangi menuju rumahmu. Sesampainya di sana, aku berpamitan dan kau berdiri di depan halamanmu mencoba mengiringi aku pulang. Tak sempat ku janjikan kita akan bertemu lagi lain waktu, wajah datar dan sikap terlampau datar pula bahkan menjurus dingin aku lemparkan mengiringi perpisahan pertemuan kita malam ini.
Minggu-II
Kepanikanmu dan ketidaktenanganmu saat menemuiku malam lalu mengusik alam pikiranku, tepat pukul sebelas siang ini aku menelponmu. Aku menanyakan “sudah matang” jawabanmu kaget bercampur dengan air muka yang berseri menerima telepon dariku. Kau sekilas menjawab “sudah, kok kamu bisa tahu aku sedang memasak?”.
“Sore ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Aku akan datang pukul lima sore.” Jawabku menjawab pertanyaannya barusan. Telepon kututup tanpa meminta persetujuan darinya. Sama seperti minggu lalu, aku menyempatkan diri menjenguk nenekku terlebih dahulu sebelum menuju rumahnya untuk menjemputnya untuk jalan sore ini bersamaku. Sampai di rumahnya aku bertemu dengan wanita setengah baya yang aku taksir adalah ibunya, aku dipersilahkan masuk, dan dengan sedikit tergesa dia mengangkat gagang telepon untuk meneleponmu Melodi!!. Sebelum datang ke rumahmu kau mengiyakan akan menunggu kedatanganku sekitar lima belas menit kemudian. Tetapi, kenyataannya kau mengihilang dan ibumu menelepon dan aku menunggu di sini, di kursi ini, layaknya seorang pria menunggu sesuatu. Jika seorang pria menunggu seorang wanita yang dengan sadar menjanjikan waktu dan tempat, sedang ia menghilang dengan tanpa pemberitahuan kepada sang pria, sungguh itu menjadikan pria-pria lemah mental dalam menghadapi dunia yang menjadi terbalik oleh pria-pria yang membalik kodratnya sebagai lelaki. Ingin aku marah, jika kutitipkan geramku pada laut niscaya laut akan mengirimkan ombak. Tetapi biar kusimpan geramku sendiri dan mengucapkan astaghfirullohaladzim. Karena pasti ada penjelasan dan alasan yang masuk akal. Lima belas menit kemudian kau datang dengan seorang gadis cilik. Bercakap dan beralasan ini itu kepada ibumu yang memberondong pertanyaan kepadamu karena membuatku menunggu. Kau coba tunjukkan wajah manismu, namun hal itu semakin menunjukkan tabir kepalsuan. Aku merasa kau sedang berselimut tabir kepalsuan. Dan tangan-tangan ajaiblah yang menuntunku berada dan tetap di sini sekarang. Kau berpamitan untuk mandi dan menyiapkan diri sebentar. Aku iyakan dan aku tetap disuruh menunggu dan sekali lagi tangan takdir yang ajaib itu mencoba menyabarkanku. Adzan maghrib sudah berlalu, saat sebentar kau turun dari kamarmu. Aku berpamitan mengajakmu pergi kepada orang tuamu padahal aku sendiri sedang mencoba memecahkan potongan-potongan puzzle yang mulai ada sejak tadi sore. Entah akan kuajak kau kemana. Rasa-rasanya ide ataupun perasaan tertarik sudah enyah entah kemana. Pilihan pun tertuju ke sebuah pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Pusat. Hari hampir malam, ketika kami menjejakkan kaki-kaki kecil memasukinya. Lantai enam, dengan sebuah meja persegi empat, dua kursi yang kami duduki berhadap-hadapan ditemani dua gelas minuman yang menghiasi meja yang datar tanpa warna. Sejenak saling bercerita tentang masa lalu, dengan sesiapa hari-hari itu dilalui, masa-masa sekolah dan sedikit sejarah yang membuatku semakin terbisikkan sesuatu darimu. Sejurus kemudian aku ajak kau pulang, lelah rasanya menyimpan geram yang gagal menjadi api yang menjalar ataupun ombak yang menggulung. Sekali lagi, tabir kepalsuan..
Rintik hujan turun sekali lagi ketika kami mencoba pulang. Kutunggu dan kautunggu pula hujan yang sama, tapi rasanya apa iya hujan ini sama bermaknanya untukmu dan untukku?. Tidak begitu lama air hujan menggelepar di jalanan dan di tempat lain. Aku ajak kau langsung pulang, tetapi kau menolaknya. Aku sudah penat dan lelah melihat sikapmu tadi sore. Dan kulangkahkan sepeda motorku ke arah yang aku tahu. Rintik itu datang lagi, ingin aku berteduh dan memaknai hujan ini. Tapi perasaan untuk memaknai seperti terhapus dengan pikiran untuk segera pulang.sampai di sebuah jalan yang agak panjang, kau mengeluh kedinginan, padahal aku yang sedari tadi basah menahan air yang menuju ke arah kita. Kau mendekatkan jemari tanganmu ke arah pinggangku. Entah setan mana yang membujukku untuk mengarahkan jemari tanganmu dan menggemgamnya menuju ke saku pinggangku. Sebentar lagi daerah pasar senen terlihat, aku masih ingat jelas kau berkata ketika melihat sebuh Bank Pemerintah yang memajang sebuah mobil hadiah di halaman gedungnya, “Ald, nanti kita ambil mobil kita yah..” dengan tawa kecil yang semakin mendekatkan tubuhmu mendekap punggungku. Aku diam, aku tak tahu harus berkata ataupun berbuat apa. Yang kutahu hanya memutar pedal gas agar lekas sampai rumahmu. Di sekitaran rumahmu, hujan tak terbit lagi. Jalanan kering, sesampainya di depan rumahmu, kau ajak aku untuk mampir, ibu dan kakak perempuanmu menyambutmu dan mungkin juga aku. Kau langsung masuk ke dalam rumah, sedang aku terhenti di pintu dan berpamitan kepada ibu dan perempuan yang ku sangka kakakmu itu. Tak lama kau muncul dari balik tirai ruang tamu dan mengiringi perpisahan pertemuan kita malam ini sembari menyelipkan sedikit perhatian dan permintaan untuk memberi kabar padamu sesampai aku di rumah.
Minggu-III
Malam ini aku mengirimu sms dengan asumsi yang begitu baik. Berharap kau dalam keadaan baik-baik saja. Tetapi setelah beberapa sms perbincangan kita malam ini, tersirat perasaan darimu yang memenuhi ruang gengsi dan keegoisan. Maaf aku berfikir demikian. Namun setelah hari ini telepon kita lebih sering berdering dan meleburkan percakapan kita berdua. Saling ingin mengetahui keadaan masing-masing. Perhatian-perhatian yang datang melebihi seorang teman biasa. Hari-hari yang berjalan tidak lagi konstan, semua akan terasa spontan. Hari-hari yang penuh emosi.
Januari
Awal tahun ini terasa begitu lembab. Angin-angin mengurai bebauan alam yang melayang-layang disepanjang jalan. Aku masih ingat perangaimu pada minggu-minggu yang lalu. Telepon-teleponmu, sms-sms darimu. Aku hampir tidak lagi memikirkan untuk melihat wajahmu dalam nyata. Awal minggu tahun baru ini berjalan begitu cepat seiring angin yang berjalan bersama arakan awan yang tebal. Minggu terakhir bulan pertama ini sms darimu kembali mengusik alam ingatanku tentangmu. Aku mengajakmu bertemu menatapi goresan dunia semasa kita tinggalkan dalam masa remaja yang kita jalani sendiri-sendiri. Tidak ada respon dan balasan darimu. Itu cukup untuk membuatku menghapus nomor telepon darimu diponselku untuk selamanya. Agar dimasa-masa mendatang tidak ada lagi benang merah ketika aku melihat daftar teleponku. Aku duduk di sebuah bangku panjang di belakang sekolah. Melihat angin menggerakkan dedahanan. Matahari bersinar begitu terang seolah merestui semua kegiatan alam di bawahnya. Seminggu berlalu. Bulan ini, januari, aku terdiam dalam respon otak pemikiran hati. Diakhir bulan teduh ini, dibangku panjang belakang sekolah kuratapi dan kupandangi perjalanan keilmuanku dimasa mendatang. Pagi ini teduh namun bermandikan cahaya yang cerah dan menggairahkan. Aku menunggu teman-teman sekelasku untuk berbincang tentang keajaiban masa depan yang samar dan terselubung. Pembaca yang budiman, hampir berlalu seluruh cerita ini jika basuhan hujan tidak mengingatkanku kembali pada masa-masa itu.
Jumat, 09 Desember 2011
Desember
Bulan ini adalah bulan terakhir tahun yang ada sekarang, tapi perjalanan hidup terus menggerus waktu dan tidak menyisakan keberhentian. Sudah lama setelah pertemuan pertama saat dahulu dengan Melodi. Hari-hari terlalu cepat untuk bergulir di tengah musim penghujan. Matahari terasa begitu menyengat dan juga terasa begitu teduh bulan ini. Di siang hari burung-burung dan bebungaan yang kuat bercanda riang bermandikan sinar matahari pagi yang terang. Tetapi bagi mereka yang renta, sinar ini membakar mereka sampai tergolek di dalam sarang-sarang mereka sendiri dan di jalanan yang diterjang oleh kendaraan yang lalu lalang. Kami berbincang lewat komputer dan hanya bisa saling memandangi wajah yang terasa begitu asing namun begitu dekat dengan mata. Di awal bulan ini gurauan dan tawa saling terbahasakan melalui komputer tanpa pernah kudengar suaranya secara langsung. Seperti mimpi-mimpi yang nyata dalam dunia fana, seperti angin yang hanya bisa kurasakan tanpa bisa kulihat dan kutangkap bentuk tawamu. Angin yang berhembus di dunia ini bisa bernyanyi, melagukan keresahan ombak yang senantiasa merindukan sang pantai sebagai kekasihnya. Angin juga bisa melagukan keriangan pagi hari dalam cumbu bebungaan.
Aku baca sebuah kabar dalam komputer tempat kita berdua mengisahkan kata-kata. Kau isi layar itu tetapi aku meragukan jika itu kamu. Seminggu berlalu. Aku menghayati apa yang terjadi diantara kesibukan hari-hari yang melaju. Aku meneleponmu, ingin mendengar kata-kata yang biasa kau tuliskan dalam layar elektronik. Siang ini matahari terik dan telepon berdering menunggu jawaban telepon darimu. Suara laki-laki yang kudengar. Aku merasa asing. Suara datar yang terdengar dari seberang telepon membuat aku berperangai lebih ekspresi. Setelah beberapa saat bercakap, aku tutup telepon dengan sedikit senyum gurauan. “Dasar orang yang tidak punya etiket bertelepon” begitulah hatiku berkata. Hari-hari berlalu tanpa ada kabar darinya. Di suatu maghrib dua minggu akhir tahun ini, tiba-tiba melodi meneleponku dan sungguh aku tidak begitu mengerti maksud dan tujuan telepon darinya itu. Seminggu kemudian, dia melakukan hal yang sama. Aku terdiam dalam keremangan yang berteman dengan kumandang adzan.
Selasa, 29 November 2011
November
Tidak terasa sudah hampir dua tahun setelah kelulusanku dari sekolah yang mengambil bagian dari ceritera masa mudaku. Aku mengenangkan tanaman-tanaman yang tumbuh liar dan yang terawat di sekitaran tempat kami berjalan dan bersendau gurau di sela-sela pelajaran. Desahan dahan-dahan yang menahan dinginnya angin sore musim hujan dan musim yang menguliti daun-daun dari dahan-dahan tua sebuah pohon tinggi yang terus bertahan hidup. Melihat itu semua hatiku jatuh dan benih cintaku menghujam bumi untuk terus tumbuh. Menampikkan tabir-tabir menuju cahaya terang ilmu pengetahuan. Membuka sudut-sudut hatiku dan meneranginya. Cinta datang padaku dengan lidah dan air mata serta keheningan suara orang-orang yang membicarakan cinta. Aku masih mengenang jalan-jalan yang merekam seluruh permainan kita, gurauan kita bahkan bisikan-bisikan kita. Perjalanan hidup kita bisa menjadi saksi yang berbunyi lantang maupun bisu dengan segala rahasianya, mendekap segala unggapan, menangkap tawa, suatu ceritera yang dialami seluruh manusia, yang memang ada dan tak mungkin mati, ia akan abadi hingga tak ada yang mampu lagi mengenangnya. Kalian pun pasti pernah mengalami kenangan-kenangan yang di samping-sampingnya tumbuh anggrek-anggrek dan bunga lainnya yang tak kalah memikat pandangan dan hati.
Mengingat hal itu, aku beranjak dari kesibukanku untuk bertemu teman lama yang mengundangku kerumahnya, seorang teman semasa sekolah dua tahun yang lalu. Hari itu adalah sebagian dari penghujung musim hujan yang teduh. Rumput-rumput menghijau cemerlang, pohon-pohon cemara menantang gerusan kendaraan yang lalu lalang dengan tegar bagaikan gunung yang tak goyah diterpa musim-musim yang terus berulang. Aku mengunjungi rumahnya yang tak seberapa jauh dari tempat sekolah kami dahulu. Perbincangan-perbincangan pun bergulir mengenai hal-hal yang kami alami dan yang tak kami ketahui tentang keadaan sekitar. Sedang kami bercakap-cakap, temanku seperti sedang mengingat ingat sesuatu dengan menudingkan jari telunjuknya ke keningnya yang datar. Mencoba mengingat sesuatu dan sejurus kemudian menyebut nama seorang kawan lama bernama Melodi dan menceritakan pertemuan dan perbincangannya dengan perempuan itu. Ia coba membuatku mengingat tentang kejadian-kejadian masa lalu saat kami remaja dan menuntut ilmu bersama.
Aku mencoba mengingat kejadian dan permainan masa remaja kami bersama bagaikan seorang asing mengingat tempat yang pernah ia singgahi dalam perjalanan dan pengembaraannya yang panjang. Aku mengenangkan wanita itu dengan bantuan teman lamaku tersebut. Disebutkannya kejadian-kejadian yang pernah kami alami dan hal-hal kecil yang aku tidak ketahui. Temanku menatap mataku dengan tajam dan menyentuhkan pikirannya ke pemahamanku bagaikan sebilah pisau dingin yang menyentuh kulit. Temanku menyarankan untuk menghubunginya dan mengenangkan kembali masa muda kami yang menurutnya indah untuk dikembalikan ke dalam gairah masa depan. Aku masih mencoba mengingat wajah seorang wanita yang sedang dibicarakan temanku itu dengan seksama seperti seorang murid yang membolak-balik halaman buku catatannya menyiapkan hari ujian. Dunia pasti berputar dan ada waktunya semua berubah, termasuk kelalaian dan kealpaanku akan sosok dan rupa wanita itu. Dengan bergulirnya hari dan waktu yang sedang pesta warna dalam senjakala aku berpamitan kepada temanku untuk kembali ke rumah. Aku menitipkan salam kepada keluarganya dan kepada wanita masa lalu yang masih asing dalam pandangan ingatanku. Seandainya kau bertemu dengannya lebih dahulu ketimbang diriku dan jika kau pun coba mengingatkan perihal diriku kepada dirinya, sampaikan salamku kepadanya. Aku mengucapkannya diiringi salam perpisahan sembari menepuk pundaknya yang tipis. Matanya dalam dan senyumnya mengembang seolah-olah tahu waktu dan saat dimana ia akan bertemu dengan wanita itu. Baiklah temanku, jika aku bertakdir untuk bertemu dengannya lebih dahulu, aku berdo’a agar aku tak pernah lupa dan lalai untuk menyampaikan salam hangatmu. Aku merasakan getar suaranya dan meresapi kata-katanya yang terasa magis. Sepertinya keajaiban dan keanehan muncul secara bersamaan bagaikan takdir yang begitu gaib. Aku beranjak dari rumahnya dengan diiringi seulas senyuman dan bayang-bayang pepohonan yang mengiringi perjalanan sore ini. Angin menyapa dan mengalun bagaikan menusuk relung hati yang paling dalam. Aku masih terus membayangkan kegaiban kata-kata temanku saat roda-roda kendaraanku berpeluh dengan aspal yang sedikit basah.
Mungkin semua orang akan merasakan pengalaman yang akan menjadi suatu langkah pendewasaan diri. Seperti gelombang-gelombang ombak yang terus berulang mengajarkan arti pertemuan dan perpisahan dan ketika rembulan meredamkan gejolak yang terjadi, arti pertemuan dan perpisahan semakin syahdu dan menyayat hati. Setiap manusia hidup dalam dunia yang sama, tetapi terkadang mereka memiliki dunianya sendiri, dunia yang memiliki musim berbeda, langit dan pelanginya pun berbeda, hanya manusia-manusia yang berhati murnilah yang mampu melihatnya tanpa terselubung oleh kepalsuan dunia semu. Dalam sela waktu pekerjaanku, aku sempatkan melihat dunia yang luas namun sempit, dunia yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu dan aku bersyukur menjadi salah satu diantara mereka. Aku teringat sebuah nama yang disebutkan temanku tempo hari. Aku melihat-lihat rumahku di dunia itu dan sebuah nama sudah diantarkan untuk mengetuk pintu rumahku. Aku mempersilahkannya memasuki pekarangan rumah dunia semuku. Aku lihat wajah, rupa dan mencoba kembali menggali ingatan yang terbenam. Ingatan itu akan terus berputar seperti matahari yang terbit dan terbenam, ia akan terbenam untuk hadir kembali pada saat yang sudah digariskan, seperti itulah ingatan akan wajah dan sosok wanita yang memasuki pekaranganku dan menyapaku seperti seorang teman lama kendati aku belum benar-benar yakin jika benarlah ia yang tempo hari disebut temanku, seorang teman wanita, teman dari masa muda yang hijau dan cemerlang bermandikan sinar surya, teman yang bernama Melodi.
Langganan:
Postingan (Atom)