Jiwa-jiwa yang tenang, jangan sekali-kali kamu mengikuti pemikiran dan emosi diri sendiri. Bahwasanya memang kamu tak punya daya dan upaya untuk menentukan kebenaran yang sejati. Terlebih perkara yang belum diketahui. Berfikirlah!
Kamis, 02 September 2010
Alde (tak punya perasaan)
dan berkatalah ibuku yang dengan paras lembut penuh kesejukan pagi hari.
tenanglah ankkku, tak selamanya kau akan seperti itu. apa kau sedang dirundung rindu akan anugrah Tuhan yang mulia?. setiap orang penuh dengan kegelapan karena dunia ini hakikatnya diciptakan untuk kesedihan dan kegelapan. supaya kita bisa mencari dan tahu mana arah yang benar menuju kegembiraan yang penuh terang benderang.
mengapa adam dikeluarkan dari surga, mengapa ia juga tidak langsung dipertemukan dengan hawa ketika baru tiba dibumi?. supaya ia tahu betapa indahnya keagungan yang telah diberikan-Nya dan supaya kau tahu rasanya memendam rindu..
begitu pula ayahmu dahulu. ayahmu memiliki sisi gelap yang hanya sedikit orang mengetahuinya..
benarkah begitu ayah..?
Alde (Wanita)
bercerita tentang wanita . . .
aku ingat seorang imam pernah berkata
"hanya burung bersuara merdu saja yang dikurung"
aku tidak tahu apa persis maksud dan tujuannya sang imam berkata seperti itu . .
pemahaman manusia biasa yang hina sepertiku hanya akan mengaburkan maksud dan tujuan utamanya..
lalu aku duduk terjaga ditengah malam yang belum begitu dingin.
melayangkan pikiran ke pikiran yang lain
apa harus dicari di kotak mutiara kah jika ingin mencari mutiara pilihan . .?
sedangkan dilautan terhampar luas dan banyak mutiara di dasarnya . . ?
yang mungkin lebih indah dan bernilai dari yang didapatkan si pencari mutiara.
tapi pencari mutiara tidaklah buta dan lagi amat peka
pengalaman yang menjadikannya memandang dimensi-dimensi yang tak biasa dipandang orang-orang lemah pengetahuan.
tapi siapa yang tahu jika kita tak sama-sama memperlakukan mutiara-mutiara itu dengan adil . .
mengajari mereka bersuara merdu . .
mengajari mereka berpandangan cemerlang . .
tapi tangan takdir terkadang membuat kita lena dalam kesombongan . .
seolah-olah telah menjadi seorang pencermerlang mutiara-mutiara yang belum tentu bisa cemerlang.
Alde
wahai putraku.. berfikirlah dan merenunglah niscaya nuranimu akan menuntunmu di usia mudamu. percayakanlah mata hatimu sebagai penguasa hati dan fikirmu. Jadikanlah mata hatimu raja. raja yang akan melidungi dan menjagamu dari senua yang pernah terbersit ataupun terlintas untuk memutuskan menurut kehendak hawa nafsumu. Manusia tanpa mata hati seperti orang yang tidak punya perasaan. Tak mampu merasakan apa yang sebenarnya kau inginkan dan orang lain rasakan. pahamilah perasaan yang berjalan diantara perasaan dan hasrat hatimu. Dengan begitu kau akan tahu lukisan apa yang sedang kalukiskan dikanvas hidupmu.
Dengannya pula kau mampu dengan jelas membedakan hitam dan putih hidupmu. Sehingga kau tahu dan mengenal dengan baik dirimu sendiri. Setelah itu berjalanlah dengan hati seringan hembusan pagi yang cerahnya menghapus embun dan memekarkan bebungaan, meski embun tersiksa karena kau sirnakan pagi itu dan begitu seterusnya. Tapi ia tak akan mengeluh dan sakit hatinya karena kau memekarkan mawar keinginan hati. Karena dengannya embun akan datang setiap pagi sampai kau dengan tegas menyinari kuncup -kuncup hati yang akan memberikan keharuman di taman-taman jiwamu dan jangan sesekali coba kau melindungi embun pagi yang akan hilang karena kau takut kehilangannya dengan sayap-sayap harapanmu sedang tangan-tangan mimpimu menghangatkan kuncup bebungaan yang akan mengindahkan hari.
Kau Ini Bagaimana dan Aku Harus Bagaimana?
Kau bilang aku merdeka/kau pilihkan aku segalanya!
Kau suruh aku berfikir/aku berfikir,kau tuduh aku kafir!
Aku harus bagaimana?
Kau bilang bergeraklah/aku bergerak kau curigai!
Kau bilang jangan banyak tingkah/aku diam , kau waspadai!
Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku memegang prinsif/aku memegang prinsip, kau tuduh aku kaku!
Kau suruh aku toleran/aku toleran/kau bilang aku plin plan!
Aku harus bagimana?
kau suruh aku maju/aku maju kau serimpung kaki ku!
Kau suruh aku bekerja/aku bekerja, kau ganggu aku!
Kau ini bagaimana?
kau suruh aku taqwa/khotbah keagamaanmu,membuat aku sakit jiwa!
Kau suruh aku mengikutimu/langkahmu tak jelas arahnya!
Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh menghormati hukum/kebijakanmu menyepelekannya!
Kau suruh aku berdisiplin/kau menyontohkan yang lain!
Kau ini bagaimana?
kau bilang tuhan sangat dekat/kau sendiri memanggil-mangginya dengan pengeras suara setiap saat!
Kau bilang kau suka damai/kau ajak aku setiap saat bertikai!
Aku harus bagaimana?
Kau suruh aku membangun/aku membangun kau merusaknya!
kau suruh aku menabung/aku menabung, kau bilang aku harus punya rumah!
Aku punya rumah/kau meratakannya dengan tanah!
Aku harus bagaimana?
Aku kau larang berjudi/Permainan spekulasimu menjadi-jadi!
Aku kau suruh bertanggung jawab/ kau sendiri terus berucap Wallahu’alam bissowab!
Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku jujur/ aku jujur kau tipu aku!
Kau suruh aku bersabar/aku bersabar,kau injak tengkukku!
Aku harus bagaimana?
Kau suruh aku memilihmu sebagai wakilku/sudah kupilih,kau bertindak sendiri semaumu!
Kau bilang kau selalu memikirkanku/aku sapa saja kau merasa terganggu!
Kau ini bagaimana?
Kau bilang bicaralah/aku bicara ,kau bilang jangan ceriwis!
Kau bilang jangan banyak bicara/aku bungkam.kau bilang aku apatis!
Aku harus bagaimana?Kau bilang kritiklah/aku kritik,kau marah!
kau bilang carikan alternatifnya/aku kasih alternatif,kau bilang jangan mendekte saja!
kau ini bagaimana?
Aku bilang terserah kau/Kau tak mau!
Aku bilang terserah kita/Kau tak suka!
Aku bilang terserah aku/kau memakiku!
Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana?
Teman-teman 54 jakarta
jepretan kamera yg berlokasi di dinding kantin jaman sekolah, pas maghrib.
(kiri-kekanan) Yehuda DA, Rusdi Y, Usnul H, Sapta R, Wahyudi S, Slamet W, Yusuf F, Wasis WP
gk pernah nyangka gw kalo ngeliat perilaku lw pada waktu masih pada nge-STM dulu. Ada yang udah jadi Intel, ada yang jadi pak pulisi, ada yang udah jada dan masih tetep jadi mahasiswa, ada yang jadi pegawai pabrik (termasuk saya), dan ada yang menimang anak..
ternyata memang kalau masa depan itu gk ada yang bisa nebak..
Dulu ada yang ndaftar dan semangat banget jadi anggota korps BMG, nyatanya sekarang jadi pak pulisi.
Dulu ada yang pengen banget jadi insinyur mesin (khususnya otomotif), sekarang masih dan tetep berlanjut jadi mahasiswa teknik informatika (ck..ck..ck.. gw tahu kenapa lw gk jadi insinyur mesin wkwkwkw)
Dulu ada yang maunya gak jelas, sekarang jadi intel di kepolisian yang tugasnya ngawasi sekitaran jakarta.
Dulu ada yang cengangas-cengenges, tahu-tahu udah ngendok anak, anak orang dan anaknya hasil gendong-gendongannya sama anak orang.
Dulu ada yang mau belajar bahasa, sekarang masih belajar bahasa sih.. tp, bahasa mesin..
Dulu ada yang mau jadi tukang robot, malah nyasar di atas kertas gambar dan perencanaan.
Dulu ada yang mau jadi sukses karena memegang status lulusan terbaik, sekarang nyasar disalah satu perusahaan retail yang lagi ngetrend..
wis pokoknya apa yang kita cita-citakan memang harus diusahakan dengan sekuat tenaga, tp jika tangan takdir sudah berkehendak lain dan memilihkan jalannya sendiri, mau apa..
mudah-mudahan kawan-kawan tetap berada di jalur yang dulu dan sekarang dicita-citakannya..
Oiya, udah sekitar lima tahun saya tidak menjejakkan kaki di sekolahan ini, terakhir kali pas ngambil surat keterangan lulus dari sekolahan ini buat masuk ke universitas. Maklum, waktu yang lain sibuk ngurusi surat-surat lulusnya, saya terpaksa sibuk ngurusi elevator machine di sebuah gedung yang lumayan tinggi di Jakarta (42 lt). Jadinya, baru setelah resign dari perusahaan itu dan memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke universitas baru punya waktu buat main-main ke sekolahan sambil ketemu guru-guru yang pada heran ketika beliau-beliau mendengar jawabanku atas pertanyaan mereka.
guru : sibuk apa sekarang?
saya : sekolah lagi pak.
guru : hah, di sekolah males, nilai pas-pasan aja pake nerusin sekolah?
saya : (tertawa sambil bilang) makanya pak, kalau mau ngeledek tuh ya mbok liat-liat dulu tuh STTB nya berapa. (STTB : Surat Tanda Tamat Belajar)
guru : Ooh.. ya sudah sekolah yang bener biar jadi Insinyur.
saya : Amin.
setelah hari itu yang pas tanggal dan harinya saya lupa, barulah kemarin saya menginjakkan kaki di sekolahan yang sudah mengajari ilmu-ilmu mesin otomotif.
melihat bangunan-bangunan yang sudah beberapa tahun ditinggalkan, mengingat pecahnya plafond kelas akibat main bola di kelas, guru-guru yang baik dan guru-guru yang menyebalkan, tidak lupa juga mengingat ruangan perpustakaan yang sudah menorehkan kenangan buat salah satu temenku sama penghuni perpustakaan yang tidak berapa lama singgah di situ (keburu di petik orang lain wkwkwkwkw)
dikantin inilah bisanya kami mengisi perut dengan semangkok mie ayam yang penomenal, mengapa?
ada tidak mie ayam yang ada variannya, bukan varian seperti di tempat-tempat jajan yang lain. Di sini bisa milih mau komplit, mie ayam doang, mie ayam gak pake ayam (bingung gak?), mie ayam gak pake ayam tapi pake kuah ayam. Dah pilih salah satu ajalah tergantung isi dompet dan besarnya duit buat main PS nanti siang wkwkwkw..
kapan lagi kita bisa kumpul kawan-kawan? tentunya bukan hanya delapan orang yang sekarang muncul di gambar, tetapi seisi kelas TMO 4 yang imut-imut...