Senin, 28 Februari 2011

Do'a Ibuku

Ada cita-cita yang dirapalkan setiap orang tua teruntuk anak-anak putera mereka, orang-orang tua yang menua dengan keikhlasan dan kesederhanaan.
banyak orang tua yang membimbing anak-anaknya dan mengarahkannya untuk mencapai predikat tertentu dalam hal keduniaan. Mendoakan supaya anaknya berhasil menembus suatu predikat tertentu dalam tatanan masyarakat, padahal Tuhan menyuruh kita untuk meminta sebesar-besarnya, bahkan jika perlu mintalah dunia seisinya berikut surga yang sempurna.
Sering kita dengar bahwa orang tua mendo'akan anaknya agar menjadi ini dan itu, agar dimudahkan ini dan itu, agar diselamatkan ini dan itu.
Tetapi ketika ku tanyai ibuku apa yang engkau do'akan untuk anakmu ini. Beliau hanya menjawab tiga hal yang sering dan utama kurapalkan setiap do'a-do'a ku.
Semoga engkau dijadikan tiga hal yang mencitrakan dirimu sebagai manusia yang hidup di bumi, engkau adalah diri sendiri, bukan dia, bukan mereka, engkau harus mengenal siapa engkau, kamu.
Aku berharap engkau dijadikan Tuhan ahli ilmu, ahli ibadah dan ahli amal kebaikan. cukup itulah yang sering kuminta karena jika kau bisa menjadi ketiga hal yang kuminta niscaya engkau akan sejahtera dunia-akhirat, engkau mengerti dan akan membantuku dan orang-orang di dunia. Apalah kebahagian terbesar orang tua melainkan melihat anaknya menjadi orang yang mencerminkan mukmin soleh sejati?

Hanya untuk hari ini

Rasa sesal datang lagi
Melihat dia yang dulu pernah pergi
Kini singgah dihati

Tak bisa pungkiri hati
Tak bisa bohongi diri
Aku cinta dua hati

Maaf ku jatuh cinta lagi
Izinkan hanya hari ini
Biarkan aku miliki
Nanti ku kan kembali

Tak bisa pungkiri hati
Tak bisa bohongi diri
Aku cinta dua hati

Reff:
Maafku jatuh cinta lagi
Izinkan hanya hari ini
Biarkan aku miliki
Nanti ku kan kembali

Pasti kau kan tetap dalam hati
Pasti kau takkan terganti
Ampuniku malam ini
Walau hanya sekali

Kamis, 18 November 2010

Gelar Timur Lenk

Timur Lenk mulai mempercayai Nasrudin, dan kadang mengajaknya berbincang soal kekuasaannya.
"Nasrudin," katanya suatu hari, "Setiap khalifah di sini selalu memiliki gelar dengan nama Allah. Misalnya: Al-Muwaffiq Billah, Al-Mutawakkil 'Alallah, Al-Mu'tashim Billah, Al-Watsiq Billah, dan lain-lain. Menurutmu, apakah gelar yang pantas untukku ?"
Cukup sulit, mengingat Timur Lenk adalah penguasa yang bengis. Tapi tak lama, Nasrudin menemukan jawabannya. "Saya kira, gelar yang paling pantas untuk Anda adalah Naudzu-Billah* saja."
* "Aku berlindung kepada Allah (darinya)"

Itik berkaki satu

Sekali lagi Nasrudin diundang Timur Lenk. Nasrudin ingin membawa buah tangan berupa itik panggang. Sayang sekali, itik itu telah dimakan Nasrudin sebuah kakinya pagi itu. Setelah berpikir-pikir, akhirnya Nasrudin membawa juga itik panggang berkaki satu itu menghadap Timur Lenk.
Seperti yang kita harapkan, Timur Lenk bertanya pada Nasrudin, "Mengapa itik panggang ini hanya berkaki satu, Mullah ?"
"Memang di negeri ini itik-itik hanya memiliki satu kaki. Kalau Anda tidak percaya, cobalah lihat di kolam."
Mereka berdua berjalan ke kolam. Di sana, banyak itik berendam sambil mengangkat sebuah kakinya, sehingga nampak hanya berkaki satu.
"Lihatlah," kata Nasrudin puas, "Di sini itik hanya berkaki satu."
Tentu Timur Lenk tidak mau ditipu. Maka ia pun berteriak keras. Semua itik kaget, menurunkan kaki yang dilipat, dan beterbangan.
Tapi Nasrudin tidak kehilangan akal. "Subhanallah," katanya, "Bahkan itik pun takut pada keinginan Anda. Barangkali kalau Anda meneriaki saya, saya akan ketakutan dan secara reflek menggandakan kaki jadi empat dan kemudian terbang juga."

Keledai membaca

Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata,
"Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya."
Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.
Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin.
"Demikianlah," kata Nasrudin, "Keledaiku sudah bisa membaca."
Timur Lenk mulai menginterogasi, "Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?"
Nasrudin berkisah, "Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halam untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar."
"Tapi," tukas Timur Lenk tidak puas, "Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?"
Nasrudin menjawab, "Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan ?"